. 8 Ciri Orang yang Hatinya Baik | shoyou68w

8 Ciri Orang yang Hatinya Baik

orang berhati baik
orang berhati baik

Menurut bandarbolasbobet ada aja urusan yang bisa buat perasaan anda melompat-lompat. Bukandengan kata lain mood swinging yang akut, tapi, perasaan-perasaan yangwajar seperti kesal, senang, marah, sedih, dan kagum akan gampang sekali timbul. Kapan saja di mana saja.

Anomali perasaan tersebut juga tidak hanya muncul sebab hal-hal yang masif terjadi di dekat kita, bahkan seringkali ketika berada di keramaian, kita dapat mengalami evolusi perasaan terhadap orang asing sekalipun.

Dari sekian tidak sedikit perubahan perasaan yang keseharian kita alami, semuanya bermuara pada konsep trust and distrust. Karena mereka yangpantas kita percayai ialah mereka yang secara tidak sadar, dan kita pun tidak menyadarinya, sudah dan tidak jarang kali bersikap positif.

Sikap positif ini saya terjemahkan sebagai kebaikan. Sebuah sifat general yang dapat membuat orang beda nyaman ketika merasakannya. Bentuknyajuga beragam, dapat berwujud sikap, penuturan, tindakan, atau bahkan dalam diam.

Beberapa sinyal baik dari orang-orang baik dapat disaksikan darisejumlah hal remeh-temeh inilah ini (these might be wrong, these might be not). You choose)

1. Nggak Pernah Ganti Nomer Handphone.
Untuk yang kesatu ini, ayo kita batasi angkanya. Anggap saja, kata “tidak pernah” yang saya maksud merepresentasikan usian sepuluh tahun atau lebhi. Jadi, andai kamu ialah orang yang sekitar sepuluh tahun terakhir masih memakai nomor ponsel yang sama, silakan tersenyum.

Mengapa ini menjadi indikasi guna orang-orang baik dan yang pantas dipercaya? Mari anda memanjangkan logika. Mereka yang setia memakai satu nomor, ialah mereka yang senantiasa stand by dengan nomornya, mereka yang lapang dada, yang (biasanya) tidak punya ketakutan bakal hutang dan sebagai-bagainya, yang tidak hendak membuat orang beda merasa kendala saat menghubunginya, yang enteng hati ketika membantu.

2. Selalu Tersenyum.
Untuk yang satu ini, ayo kita menjajal seberapa picik benak kita. Ayo, Siapa yang kesatu kali menyimak poin nomor dua ini langsung bergumam “masa iya dah?”
Memang tidak terdapat bukti pengalaman yang menyokong asumsi ini. Bahwa mereka yang gemar tersenyum ialah mereka yang lebih baik daripada mereka yang tidak jarang kali bermuka masam.

Tapi, pikirkanlah, guna dapat tersenyum lagipula kepada mereka yang tidak sama sekali anda kenal diperlukan lebih dari tarikan otot di muka, tapi pun keberaninan dan niat guna bersikap rramah. Bukankah itu ialah hal yang baik? Lagipula, telah lama sekali sterotipe yang menuliskan bahwa mimik muka orang baik ialah mereka yang tengah tersenyum, toh?

3. Berpikiran Positif.
Sungguh, tidak boleh remehkan poin yang nomor tiga ini. Coba sejenaksimaklah sekeliling kamu. Pasti akan tidak jarang kali ada sejumlah orang yang doyan berkomentar negatif, atau memikirkan urusan yang sama sekali di luar nalar kalian. Mereka yang dengan senang hati mengumbar aura negatif itu seringkali punya tidak sedikit referensi berita dan punya perhatian yang berlebihan terhadap sesama.

Kalau begitu, mereka yang punya aura dan benak positif ialah sebaliknya?

Umm, dapat juga dibilang begitu. Tapi saya lebih senang mencerminkan mereka yang punya level positif tinggi ialah mereka yang tidak banyak cuek dengan sekitar, berpikiran terbuka, tidak punya musuh, dan menjalani hidup apa adanya. Mereka ialah orang yang baik dan tidak bakal terusik dengan apa saja yang bukan hal mereka.

4. Menyembunyikan Ibadah.
Menjadi tidak sombong ialah salah satu hal sangat sulit di dunia ini. Maka saya membubuhkan hormat yang sangat dalam untuk mereka yang jauh dari sifat sombong.

Jika menyombongkan hal-hal yang nampak dan keduniaan sudah lumrah, saya akan membubuhkan hormat lebih dalam lagi untuk mereka yang jauh dari sifat congkak atas kualitas dan kuantitas ibadah mereka. Tenang mereka yang dengan rendah diri menyembunyikan alangkah mereka menghamba untuk Tuhan dan ajaranNya.

Sungguh bukan urusan yang mudah, guna bersikap demikian. Bagi itu, mereka yang dengan segala kepasrahan diri tidak mengumbar bagaimana hubungan mereka dengan Tuhan ialah orang-orang yang baik.

5. Memulai Percakapan.
Saya pernah menyimak sebuah tulisan yang menyebutkan mengenai orang-orang yang punya intelektualitas tinggi. Salah satu ciri mereka ialah mereka yang menyapa terlebih dulu. Mereka yang menanyakan “apa kabar” terlebih dahulu.

Dari situ, saya yakin, mereka yang dirasakan pintar tersebut pun punya sisi kindness yang tebal. Mereka ingin akan punya sikap yang lebih mannered. Karena saya yakin, tidak smeua orang dapat membuka percakapan.

Tolong tidak boleh remehkan keterampilan yang satu itu. Untuk sejumlah orang, membuka percakapan ialah hal yang mudah, namun untuk banyak orang, mereka bakal lebih memilih untuk menantikan atau bungkam.

Sekali lagi, mereka yang terbiasa mengawali percakapan ialah salah satu ciri orang baik.

6. Meminta Maaf, Tolong, dan Berterimakasih.
Satu urusan yang tidak jarang kali saya katakan untuk adik bungsu saya yang tengah bersekolah di Pesantren merupakan: Ingat selalu, ‘maaf’, ‘tolong’, dan ‘terimakasih’!

Karena tiga ungkapan tersebut yang saya rasa mulai tersiar antik di masyarakat kita. Mereka yang terbiasa dengan sopan mengungkapkan tiga katatersebut saya rasa ialah mereka yang punya integritas dan membubuhkan hormat untuk lawan bicaranya.

Memintaa maaf, tolong, dan berterimakasih memang sepintas tersiar ringan. Tapi andai telah dilaksanakan setiap hari, urusan ini tidak hanya menimbulkan aura positif dan kindness dari mereka yang melakukannya, tapipun melahirkan rasa kepercayaan.

7. Mem-posting Hal-Hal yang Layak Baca.
Dunia maya biasanya menjadi alter ego untuk mereka yang tidak nyaman dengan dunia nyata. Terlepas dari jutaan manfaatnya, dunia maya melewati situs-situs populer di dalamnya muncul menjadi wakil diri anda dalam tatanan dunia lapis kedua itu.

8. Pengendali Emosi.
Poin terakhir (versi saya) ini pun salah satu yang sangat sulit. Dan pada ketika yang sama pun salah satu urusan yang sangat mencirikankebajikan seseorang.

Secara alami, kita dibuat memang telah komplit dengan emosi. Sebuah anugerah yang punya dua sisi. Baik dan buruk, Tergantung bagaimana anda menciptakannya. Karena saya yakin, emosi tersebut selalu dapat dikendalikan.

Entah emosi yang mengasyikkan ataupun sebaliknya. Saat kita dapat dengan matang mengendalikan luapan emosi, saat tersebut kita bakal merasa sebuah kebebasan dan kelegaan mental. Merasa mempunyai diri sendiri seutuhnya dan menuju kebajikan yang lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *